Bangun Budaya Demokrasi, Bawaslu Sukoharjo Ajak Mahasiswa UNIVET Ikuti Kompetisi Debat Bawaslu RI
|
SUKOHARJO – Bawaslu Kabupaten Sukoharjo terus memperkuat sinergi dengan kalangan akademisi dalam upaya membangun budaya demokrasi yang berintegritas. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kunjungan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET Bantara) Sukoharjo untuk mengajak mahasiswa berpartisipasi dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu Edisi VI Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Bawaslu RI menghadirkan ruang intelektual yang tidak hanya berorientasi pada kompetisi semata, tetapi juga menjadi panggung bagi generasi muda untuk memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan demokrasi Indonesia. Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa diajak untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi berbasis hukum, serta menawarkan gagasan inovatif dalam menjawab berbagai tantangan penegakan hukum pemilu di Indonesia.
Kedatangan jajaran Bawaslu Kabupaten Sukoharjo disambut hangat oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNIVET Bantara Sukoharjo, Joko Suryono. Dalam suasana penuh semangat kolaborasi, kedua belah pihak berdiskusi mengenai pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun kesadaran hukum dan memperkuat kualitas demokrasi melalui partisipasi aktif mahasiswa.
Dari Bawaslu Kabupaten Sukoharjo hadir Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi, Supriyanto, serta Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat, Asis Sulistiyanto. Kehadiran kedua pimpinan divisi tersebut menjadi bentuk komitmen Bawaslu dalam memperluas jejaring pengawasan partisipatif dengan melibatkan civitas akademika sebagai mitra strategis penyelenggaraan pemilu yang demokratis.
Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu bukan sekadar ajang adu argumentasi antar mahasiswa, melainkan media pembelajaran yang dirancang untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai regulasi kepemiluan, kewenangan Bawaslu dalam melakukan pencegahan, pengawasan, dan penindakan pelanggaran, serta dinamika penegakan hukum pemilu yang berkembang di Indonesia.
Melalui forum debat, mahasiswa ditantang untuk mengkaji berbagai persoalan hukum pemilu secara komprehensif dengan pendekatan akademik yang kritis dan objektif. Kemampuan menyampaikan argumentasi yang logis, didukung dasar hukum yang kuat, menjadi salah satu kompetensi utama yang diharapkan lahir dari kegiatan tersebut.
Bawaslu memandang bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam membangun demokrasi yang sehat. Mahasiswa memiliki kapasitas intelektual, idealisme, dan semangat perubahan yang sangat dibutuhkan dalam mengawal proses demokrasi. Oleh karena itu, pelibatan mahasiswa melalui kompetisi debat menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang memiliki kepedulian terhadap integritas pemilu.
Selain meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap hukum pemilu, kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan fungsi, tugas, dan kewenangan Bawaslu kepada kalangan akademisi. Dengan memahami mekanisme pengawasan pemilu sejak dini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan sekaligus pelopor pengawasan partisipatif di lingkungan masyarakat.
Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Sukoharjo, Supriyanto, menyampaikan bahwa pengawasan pemilu tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada penyelenggara pemilu. “Partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Pengawasan yang melibatkan masyarakat akan semakin memperkuat upaya pencegahan berbagai bentuk pelanggaran maupun potensi kecurangan dalam setiap tahapan pemilu,” ujar Supriyanto.
Sementara itu, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat, Asis Sulistiyanto, menegaskan bahwa kompetisi debat ini menjadi sarana edukasi publik yang efektif sekaligus ruang pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah awal dalam menjaring calon-calon pengawas partisipatif yang nantinya dapat berkontribusi secara langsung dalam mengawal proses demokrasi di Indonesia.
“Demokrasi yang berkualitas membutuhkan kolaborasi seluruh elemen. Bawaslu tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi sangat penting dalam membangun budaya pengawasan yang semakin baik,” kata Asis.
Pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNIVET Bantara menyambut positif ajakan tersebut. Sebagai institusi pendidikan yang memiliki konsentrasi pada pengembangan ilmu hukum dan ilmu sosial, FISH UNIVET Bantara memandang kompetisi ini sebagai kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam praktik analisis persoalan hukum pemilu secara nyata.
Melalui kompetisi debat, mahasiswa tidak hanya belajar memahami norma hukum, tetapi juga dilatih menyusun argumentasi yang sistematis, berpikir analitis, menghargai perbedaan pandangan, serta mencari solusi atas berbagai persoalan demokrasi secara konstruktif. Nilai-nilai tersebut merupakan bekal penting bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.
Bawaslu Kabupaten Sukoharjo berharap semakin banyak mahasiswa yang berpartisipasi dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu Edisi VI Tahun 2026. Harapan besar dititipkan kepada generasi muda Indonesia agar tidak hanya menjadi penonton dalam setiap proses demokrasi, tetapi mampu tampil sebagai aktor yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pemilu.
Melalui kolaborasi antara Bawaslu dan perguruan tinggi, diharapkan lahir insan-insan muda yang menjunjung tinggi nilai integritas, berani menyuarakan kebenaran, memiliki kepedulian terhadap penegakan hukum pemilu, serta siap menjadi mitra strategis Bawaslu dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, demokratis, dan berkualitas. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun demokrasi Indonesia yang semakin matang dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda sebagai agen perubahan dan pengawal masa depan bangsa.
Penulis: Yudhi Atmaja
Penyunting: Ramdhan Hardiyanto